Kamis, 29 April 2010

Nikmat sehat, atau nikmat sakit?!??!

Pelajaran Dari Rumah Sakit

Dalam perjalananku untuk mencari Tuhan kali ini, aku memasuki sebuah Rumah Sakit di bilangan semanggi, kulihat seorang pasien dalam ruangan, lalu kuhampiri, ternyata pasien tersebut adalah seorang pria yang berumur sekitar empat puluh tahunan. Wajahnya sangat ramah dengan mulut terus menerus bergumam, seperi sedang membaca sesuatu. Postur tubuhnya bagus layaknya seorang atlet. Akan tetapi sekujur tubuhnya lumpuh, tidak ada yang bisa digerakan kecuali kepala dan sebagian lehernya saja.
Kalau anda mengambil kapak lalu anda mulai membelah-belah tubuhnya dari mulai ujung kaki hingga dadanya, ia tidak akan merasakan sesuatu, bahkan ia pun tidak dapat merasakan maupun menyadari aktivitas buang airnya sendiri sampai ia mencium baunya. Lelaki itu dipasangi popok seperti seorang bayi dan harus diganti setiap hari.
Tiba-tiba kudengar suara telepon berdering, lalu ia berkata padaku “Wahai anak muda yang baik, tolonglah angkatkan telepon itu padaku..”
Kuangkat gagang telepon tersebut, lalu kudekatkan ke telinganya, kugunakan sebuah bantal untuk menyangga gagang telepon itu. Aku menunggunya beberapa saat sampai ia selesai bercakap-cakap, kemudian ia berkata padaku “Anak muda, tolong kembalikan telepon ini ketempat semula..terimakasih, anda sangat baik” Akupun menyimpannya kembali, tanpa sengaja kudengar lelaki itu mulai bergumam kembali, kudengar ia mengucapkan kalimat tasbih yang berulang-ulang.
Dengan rasa penasaran, akupun bertanya padanya “Sejak kapan engkau berada dalam kondisi seperti ini, wahai bapak yang baik?”
Lalu ia menjawab dangan senyum yang sangat menawan “Sejak dua puluh tahun yang lalu aku diberi oleh-Nya kondisi seperti ini” lalu iapun melanjutkan dzikir, seperti tidak ada rasa penyesalan sedikitpun pada dirinya.

***
Beberapa hari kemudian aku bergerak menuju sebuah Rumah Sakit yang letaknya tidak jauh dari tempat aku tinggal. Disitu ada seorang pasien yang berteriak demikian keras, memanggil-manggil nama sang pencipta, ia merintih dengan rintihan yang menyayat hati.
Ternyata jeritan dan rintihan itu berasal dari satu sumber, yaitu seorang yang sekujur tubuhnya lumpuh, ia berusaha untuk menoleh namun tidak mampu. Aku pun bertanya pada seorang perawat tentang sebab teriakannya...
Perawat itu menjawab, “Orang ini ditimpa kelumpuhan total! Dan terdapat kerusakan pada ususnya. Setiap kali menyelesaikan makan siang atau makan malam, ususnya tidak sanggup mencerna...”
Spontan aku pun berkata pada si perawat yang tampaknya sudah terbiasa dengan penderitaan para pasiennya itu “Kalau begitu engkau jangan memberinya makanan yang berat, jauhkan ia dari memakan daging, ikan, bahkan nasi..!”
Dengan tenang perawat itu pun berkata “Tahukah engkau apa yang apa yang kami berikan padanya? Demi Allah, kami tidak memasukkan ke perutnya kecuali air susu melalui selang yang dimasukkan ke dalam hidungnya, dan kesakitan-kesakitan yang dirasakannya itu hanya karena mencerna susu tersebut...!”
***
Di lain kesempatan aku memasuki sebuah koridor, melewati beberapa kamar rawat inap. Lalu aku mendengar ada suara dari kamar ujung yang berteriak-teriak memanggil setiap orang yang melewati kamarnya, termasuk diriku. Kudapati orang yang memanggilku tersebut adalah seorang pasien yang menderita kelumpuhan, dimana tubuhnya tidak ada yang dapat digerakkan sedikitpun.
Kulihat dihadapan pasien itu ada sebuah papan kayu yang diatasnya terdapat mushaf Al Quran yang sedang terbuka. Ternyata pasien itu dalam beberapa jam ini, setiap kali ia selesai membaca dua halaman Al Quran itu, maka ia mengulangi lagi bacaan di kedua halaman tersebut. Jika selesai, ia pun mengulanginya lagi karena ia tidak dapat bergerak untuk membuka halaman berikutnya dan tidak mendapati seorang pun membantunya.
Ketika aku sudah berdiri di hadapannya, ia pun berkata kepadaku, “Kalau engkau sudi, tolong balikkan halaman Al Quran ini...!” pintanya dengan wajah berseri-seri, bagaikan wajah seorang anak kecil yang meminta dibelikan mainan.
Aku pun membalikkan dan ia pun langsung bergembira bukan kepalang, setelah mengucapkan terima kasih padaku ia pun langsung menolehkan wajahnya kembali pada mushaf yang sudah tak baru lagi itu. Layaknya seorang pengungsi korban bencana alam yang lima hari belum makan, ia pun dengan lahapnya membaca isi halaman yang sudah diharapkannya itu.
Aku pun terharu melihat betapa bahagianya pasien tersebut mendapatkan apa yang diinginkannya dan aku pun tertegun akan keteguhannya sekaligus malu akan kelalaian diri ini.
***

Sepulang dari kerja aku sengaja mampir ke Rumah Sakit yang terletak tidak jauh dari tempat aku mencari nafkah itu. Kutanya pada perawat dimana pasien yang menderita sakit lumpuh, lalu perawat itu memberikanku arah kepada seorang pasien yang sudah lumpuh total, tidak ada yang bisa digerakkan kecuali bagian kepalanya yang selalu menghadap kekiri.
Rasa iba, itulah perasaan ku yang pertama kali kurasakan begitu menemuinya. Lalu dengan penasaran aku pun bertanya padanya “Apa yang engkau harapkan saat ini..?” Aku menyangka bahwa harapan terbesar si pasien itu adalah segera bisa sembuh, bisa berdiri, duduk dan juga bisa berpergian seperti layaknya kita yang sembuh.
Namun jauh diluar dugaan ku pasien itu berkata dengan penuh harap, “Umurku sudah hampir lima puluh tahun, aku punya lima anak, dan aku berada di atas ranjang ini sejak tujuh tahun yang lalu. Demi Allah, aku tidak menginginkan untuk sehat seperti sedia kala, tidak juga berangan-angan untuk mengunjungi ataupun dikunjungi anak-anakku...!”
“Lalu apa yang engkau inginkan..?” Tanyaku dengan penuh kebingungan.
Ia pun menjawab dengan suara bergetar, “Aku hanya mengangankan untuk bisa menempelkan kening ini di atas tanah dan bisa bersujud seperti orang lain biasa bersujud..!” lalu ia pun menangis tersedu.

***

Pada suatu hari seorang teman waktu aku kecil yang kini sudah menjadi dokter spesialis di sebuah Rumah Sakit Negeri mengundangku untuk melihat salah seorang pasiennya. Ketika memasuki ruang stimulasi orang sakit, disana ada seorang pasien yang sudah tua, berbaring diatas ranjang putih dan wajahnya cerah bercahaya.
Kemudian, tutur kawanku yang dokter itu, aku diberi tahu bahwa ternyata pasien itu telah menjalani operasi jantung, ia mengalami pendarahan yang menyebabkan terputusnya aliran darah pada sebagian daerah otak, maka kini ia koma. Ia terhubung dengan alat-alat dan di mulutnya terdapat alat pernapasan buatan yang berguna mensuplai udara ke paru-parunya sebanyak sembilan napas permenit.
Disebelah lelaki koma itu ada salah seorang anaknya, maka aku bertanya kepadanya tentang keadaan ayahnya. Anak itu lantas menuturkan kepadaku bahwa ayahnya adalah seorang muadzdzin di salah satu masjid sejak belasan tahun lamanya.
Aku mulai mengamatinya, atas izin dari anaknya, tangannya aku gerakkan, juga kedua matanya, namun si pasien tidak merespon sedikitpun, dan aku mencoba berbicara padanya, namun dia tidak menyadari apapun yang terjadi, kondisinya demikian parah.
Anaknya mendekat ke telinga ayahnya yang hanya terdiam itu, dan mulai membisikkan sesuatu, namun sang ayah tidak merespon sedikitpun. Lalu tanpa memperdulikan bisa atau tidaknya sang ayah mendengar, si anak bercerita, “Wahai ayah, ibu baik-baik saja, begitu juga dengan kakak dan adik, sedang paman baru saja pulang dari luar kota.” Anak itu terus berbicara tanpa memperdulikan keadaan, sementara kondisi ayahnya tetap saja seperti itu, tidak merespon terhadap apapun.
Lalu anak itu melanjutkan ceritanya, “Masjid merindukanmu, tidak ada seorang pun yang adzan kecuali si fulan, namun ia masih banyak keliru melafalkannya. Tempatmu di masjid kosong....!”
Tiba-tiba, ketika sang anak menyebut-nyebut tentang masjid dan adzan, dada orang tua itu berguncang hebat dan mulai bernapas. Aku memandang ke layar indikator, ternyata suplai udaranya terdorong menjadi delapan belas napas permenit, sedang si anak tidak menyadari hal tersebut!
Kemudian sang anak berkata lagi, “Saudara sepupuku menikah, sedang sepupuku yang laki-laki telah tamat sekolah...”
Keadaan orang tua itu tiba-tiba kembali tenang lagi seperti awal ku melihatnya. Dorongan napasnya kembali ke angka sembilan permenitnya dengan bantuan alat tadi.
Ketika aku melihat kejadian itu, aku menghampirinya dan berdiri di sebelah kepalanya, berseberangan dengan anaknya. Kembali ku gerakkan tangannya, kali ini rasa penasaranku melupakanku untuk meminta izin pada anaknya, tidak ada respon, kubuka kelopak matanya dan mulai ku guncangkan tubuhnya, namun tetap tidak terjadi apa-apa, tidak ada respon, kulihat layar monitor, semua dalam keadaan normal, sembilan napas permenit. Aku terheran!!
Lalu tiba-tiba entah darimana datangnya, aku mendapatkan sebuah ide. Ku dekatkan mulutku ke telinga sang pasien, kemudian aku bisikkan, “Allahu Akbar..Allahu Akbar..Hayya alash shalaah..Hayya alal falaah..Laa Ilaa Ha Ilallah..,” lalu kurasakan seluruh tubuhnya bergetar sangat kencang layaknya gunung yang hendak meletus. Ku lihat layar indikator, ternyata menunjukkan tekanan delapan belas napas permenit lagi.
Subhanallah, teriakku dalam hati, sungguh mengagumkan keadaan orang sakit ini. Demi Allah dapat kurasakan bahwa lelaki tua ini adalah salah satu dari sedikit manusia yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid.
Kisah-kisah diatas adalah pengalamanku yang kutuliskan tentang beberapa orang yang sedang dilanda penyakit. Masih ada beberapa kisah lainnya lagi yang ku tahu dari buku maupun cerita, seperti kisah dari Aa Gym yang mendapatkan inspirasi untuk lebih taat beribadah setelah malu mengingat Almarhum adiknya yang dilanda penyakit lumpuh setengah tubuhnya, namun masih saja ingin menyelesaikan sekolah menengah atasnya, bahkan cita-cita masuk ke perguruan tinggi negri didapatkannya. Hampir tiap malam Agung Gun Martin adiknya Aa gym, menyeret tubuhnya yang sudah kian tak berdaya itu menuju tempat wudlu dan melaksanakan shalat tahajud.
Pasti kita semua mengetahui kisah seorang panglima besar perang kemerdekaan Negri tercinta kita ini yaitu Jendral Soedirman yang turut melakukan perang melawan penjajah dalam keadaan sakit keras, bahkan hingga di tandu.
Wahai engkau orang-orang yang selamat dari aneka penyakit dan kemalangan! Wahai orang-orang yang sehat! Wahai orang-orang yang hidup bergelimang nikmat tanpa kekhawatiran akan bayang-bayang derita! Apa yang telah Allah perbuat kepada kita hingga kita menhadapi-nya dengan kedurhakaan?! Dengan apa ia menyakiti kita? Bukankah berbagai nikmat-Nya terus-menerus tercurah pada kita, dan berbagai karunia-Nya tak terhitung banyaknya?
Terkadang pikirku melayang, siapa yang sebenarnya sakit? Lalu siapa yang sebenarnya mendapat musibah, kita yang sehat atau mereka yang tergolek tak berdaya di atas ranjang Rumah Sakit?
Dengan langkah sombong kita sering pergi menjauh dari masjid, lalu dengan rasa penuh bangga kita pulang dari shopping centre. Dengan mudah kita menghamburkan ratusan bahkan jutaan ribu Rupiah namun berat hati ini mengeluarkan zakat fitrah, infaq, sedekah dll yang dalam kurun waktu setahun tidak mencapai kata juta.


“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
( Q.S. Ar Rahman : 13 )






Wira 2008